Select Menu

News

News

Berita

Teknosains

Health

Oase

Kuliner

Mengenal Komunitas Jakarta Osoji Club







Jakarta, Ibukota Indonesia yang penuh dengan gemerlap cahaya, riuh ramai sejak pagi hingga malam. Menawarkan segala daya tariknya mulai dari bisnis sampai hiburan. Namun sayangnya, geliat ekonomi yang tumbuh tinggi disini berbanding terbalik dengan keindahan alamnya yang kini gersang penuh dengan polusi dan sampah berserakan dimana-mana. Ditengah kepadatan penduduknya yang terus bertambah, justru kepedulian akan kebersihan lingkungan semakin berkurang.

Meskipun sudah banyak cara yang dilakukan pemerintah mulai dari penyediaan tempat sampah hingga denda jika membuang sampah sembarangan. Namun kesadaran masyarakat akan budaya bersih nampaknya masih sangat kurang.

Sementara itu, di salah satu sudut tempat ramai di Jakarta Selatan tepatnya di Gelora Bung Karno. Sekelompok orang berkaus hijau malah kelihatan bersemangat memetik sampah dengan bermodalkan pencapit dan plastik sampah besar. Mereka memungut sampah yg berserakan di area sekitar Stadion Utama sambil sesekali mengingatkan orang-orang sekitar untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Malu Buang Sampah Sembarangan", itulah motto komunitas yang mereka namai Jakarta Osoji Club Adalah Tsuyoshi Ashida, sang pendiri komunitas ini. Pria paruh baya keturunan Jepang-Indonesia ini menyadari bahwa Indonesia adalah sebagian dari identitas dirinya. Oleh karena itu, Ia ingin negara ini, terutama Jakarta menjadi lebih indah, asri dan nyaman untuk ditinggali dengan menerapkan kesadaran tinggi akan kebersihan lingkungan yang diadaptasinya dari kebudayaan masyarakat Jepang.

Kegiatan JOC tidak hanya memetik sampah saja tetapi juga melakukan kampanye “Malu Buang Sampah Sembarangan” ke sekolah dan berbagai event di Jakarta sejak didirikannya komunitas ini pada tahun 2012 lalu. Di tahun 2015 ini, JOC bekerjasama dengan Japan Foundation untuk melakukan observasi budaya bersih di Jepang. Selama beberapa hari, perwakilan JOC akan tinggal dan melihat proses manajemen sampah dan mempelajari bagaimana cara mendidik anak-anak untuk disiplin dan cinta akan kebersihan lingkungan. Selain itu, JOC juga akan mengunjungi Pemerintah Daerah Shibuya dan melakukan petik sampah bersama komunitas lingkungan setempat, Green Bird.

Sepulangnya dari Jepang, JOC akan memberikan edukasi manajemen sampah yang telah didapatnya ke sekolah-sekolah dasar yang ada di Jakarta dan mengajak masyarakat untuk dapat lebih peduli lagi terhadap kebersihan di lingkungannya. Diharapkan dengan adanya hubungan kerjasama ini, masyarakat akan terinspirasi untuk lebih mencintai lingkungan sekitar. Bahwa dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya saja sudah sangat berdampak besar bagi ibukota tercinta ini sehingga kelak jakarta akan menginspirasi kota-kota lainnya, dan menjadikan Indonesia kembali tersohor dengan keindahan alam nya.







 (Bunge Sujika Hakiki- Addie Valent)

Wahdah Islamiyah: Dibutuhkan Otoritas Untuk Menyatukan Perbedaan Penetapan Hari Raya




Ketua Umum Wahdah Islamiyah DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA memandang bahwa dibutuhkan otoritas mutlak untuk menyatukan perbedaan dalam menetapkan hari Raya. Sebab puasa dan hari Raya merupakan ibadah jama’iyyah yang penetapan dan penentuan waktunya bukan wewenang masing-masing person atau lembaga. 

“Karena itu, jalan untuk menuju persatuan, selain diskusi tentang metode, kriteria, termasuk tentang kalender, maka yang tidak kalah pentingnya adalah segera menyepakati suatu otoritas untuk menetapkan persoalan ini”, terang Ustad Zaitun.

Menurut Ustad Zaitun, hal inilah yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Arab Saudi, Turki dan yang lainnya. Negara-negara tersebut memiliki sebuah lembaga otoritas khusus yang dapat diterima oleh oleh seluruh komponen masyarakat Islam. 

Jika lembaga tersebut mengumumkan penetapan hari Raya maka  seluruh masyarakat dapat menerima baik yang menggunakan metode ru’yah maupun hisab.

Oleh karena itu Ustad Zaitun juga mengusulkan perlunya diskusi dan musyawarah yang intensif untuk membicarakan dan menyepakati persoalan otoritas ini. 

“Selama ini masih mendiskusikan metode dan kriteria, saya sangat berharap agar diskusi tentang otoritas penyatuan ini dimunculkan”, harapnya.

 “Kita berharap nanti ada keberanian untuk diskusi dalam masalah badan otoritas ini”, pungkasnya.

foto: wahdah.or.id

Mahasiswa Juara Kalkulus Itu Pedagang Asongan

ilustrasi
Demi mencari tambahan kebutuhan sehari-hari, mahasiswa itu tak pernah malu menjadi pedagang asongan di sekitar kampus.
Dream - Gapailah cita-cita setinggi langit. Sepertinya istilah itu cocok bila dikaitkan dengan semangat yang dimiliki seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Solo, Jawa Tengah itu.
Menelusuri dinginnya malam tak membuat pemuda sebut saja si Fulan mengakhiri kegiatannya sehari-hari. Dengan membawa ransel lengkap dengan buku-buku, ia tak malu berjalan menelusuri jalan sekitar kampus sambil membawa sebuah termos.

Mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) itu ternyata seorang pedagang asongan. Si fulan menjual kopi, teh dan minuman lainnya.

Hampir setiap malam ia melakukan hal itu demi menyambung kehidupan sehari-hari. Fulan dikenal sebagai pemuda yang sederhana dan pintar. Prestasinya juga luar biasa. Dia merupakan juara kalkulus di kampusnya.

Tak ingin terlena dengan beasiswa yang didapatkan tiap bulannya sebesar Rp 600 ribu, Fulan tetap berjualan agar dapat mengirimkan uang setiap bulannya pada orangtuanya. Meski sedikit.
Kesibukannya berjualan tak membuat Fulan kehabisan akal untuk menyempatkan waktu belajar. Di sela-sela memasak air saat berjualan, Fulan membaca-baca buku agar tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

Penasaran dengan kisah mahasiswa pedagang asongan ini? Yuk simak kisahnya di sini http://bit.ly/1vOLCe8 (Ism)

dream.co.id

Tata Cara Shalat Gerhana (Kusuf dan Khusuf)


Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan

Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf ( الخسوف ) dan juga kusuf ( الكسوف ) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama. Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusuf sekaligus.

Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari. (Lihat Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 2 halaman 1421).

Kusuf adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

Khusuf adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.

A. Pensyariatan Shalat Gerhana

Shalat gerhana adalah shalat sunnah muakkadah yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana para ulama telah menyepakatinya.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat: 37)

Maksud dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

Selain itu juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.” (HR. Bukhari Muslim dan Ahmad)

Shalat gerhana disyariatkan kepada siapa saja, baik dalam keadaan muqim di negerinya atau dalam keadaan safar, baik untuk laki-laki atau untuk perempuan. Atau diperintahkan kepada orang-orang yang wajib melakukan shalat Jumat. Namun meski demikian, kedudukan shalat ini tidak sampai kepada derajat wajib, sebab dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada kewajiban selain shalat 5 waktu semata.

B. Pelaksanaan Shalat Gerhana

Shalat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara berjamaah, sebab dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Shalat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
Shalat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafaz “Ash Shalatu Jamiah“. Dalilnya adalah hadits berikut: Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anha berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus orang yang memanggil shalat dengan lafaz: Ash shalatu jamiah”. (HR. Muttafaqun alaihi).
Namun shalat ini boleh juga dilakukan dengan sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskannya).
Juga disunnahkan untuk mandi sunnah sebelum melakukan shalat gerhana, sebab shalat ini disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah
Shalat ini juga dilakukan dengan khutbah menurut pendapat Asy Syafi`i. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.  Dalilnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berikut ini:  Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,”Sesungguhnya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selesai dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda,”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.” (HR. Bukhari Muslim dan Ahmad)
Dalam khutbah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk bertaubatdari dosa serta untuk mengerjakan kebajikan dengan bersedekah, doa dan istighfar (minta ampun).

Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa dalam shalat ini disunnahkan untuk diberikan peringatan (al-wa`zh) kepada para jamaah yang hadir setelah shalat, namun bukan berbentuk khutbah formal di mimbar. Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah juga tidak mengatakan bahwa dalam shalat gerhana ada khutbah, sebab pembicaraan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat dianggap oleh mereka sekedar memberikan penjelasan tentang hal itu.

C. Tata Cara Teknis Shalat Gerhana

Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat.
Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku` dan 2 sujud. Dalil yang melandasi hal tersebut adalah: Dari Abdullah bin Amru berkata, “Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, orang-orang diserukan untuk shalat “As-shalatu jamiah”. Nabi melakukan 2 ruku` dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku` untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. . Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,”Belum pernah aku sujud dan ruku` yang lebih panjang dari ini.” (HR. Muttafaqun alaihi)
Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al Baqarah dalam panjangnya. Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rakaat pertamadibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran. Sedangkan pada rakaat kedua pada berdiri yang pertama dibaca surat yang panjangnya sekitar 250-an ayat, seperti An-Nisa. Dan pada berdiri yang kedua dianjurkan membaca ayat yang panjangnya sekitar 150-an ayat seperti Al-Maidah.
Disunnahkan untuk memanjangkan ruku` dan sujud dengan bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik pada 2 rukuk dan sujud rakaat pertama maupun pada 2 ruku` dan sujud pada rakaat kedua.
Yang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqarah. Panjang rukuk dan sujud pertama pada rakaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqarah, pada ruku` dan sujud kedua dari rakaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqarah. Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rakaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.

Dalilnya adalah hadits shahih yang keshahihannya telah disepakati oleh para ulama hadits.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata,”Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat gerhana. Beliau beridri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku` sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku` lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku` yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku` panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya…. (Muttafaqun Alaihi).

Ahmad Sarwat, Lc., MA.

fimadani.com

Menjaga Romantisme Dalam Rumah Tangga

TY. Prabowo, S.Psi
Trainer & Konsultan Integritas
Konsultan Rumah Surga
@prabowo_ty
Beberapa pasangan atau keluarga mungkin tidak menganggap suasana romantis adalah hal yang penting. Padahal itu merupakan aspek yang harus dipahami oleh setiap pasangan atau keluarga yang mencita-citakan keluarga Sakinah, Mawadan, Warahmah.

Kalau kita perhatikan betapa saling cintanya pasangan yang baru menikah. Salah satu faktor utamanya adalah adanya hal-hal romantis antara pasangan tersebut yang umumnya semakin minim atau bahkan hilang bersamaan dengan tambahnya usia pernikahan.

Secara umum sangat banyak cara untuk menjaga suasana romantis dalam keluarga atau rumah tangga. Berikut ini hanya beberapa diantaranya

1. Mengungkapkan perasaan cinta dan sayang. Ungkapkan I love you, Aku sayang kamu, dan yang lainnya jangan pernah hilang walaupun usia keluarga atau rumah tangga kita terus bertambah.

2. Waktu khusus untuk berdua yang tidak disadari oleh sebagian pasangan ketika sudah dianugrahkan anak adalah hampir tidak adanya waktu untuk melakukan aktivitas dengan pasangan seperti jalan-jalan pada waktu dulu sebelum punya momongan.
Sesekali ambil waktu khusus untuk kegiatan yang sama-sama disukai suami dan istri tanpa melibatkan anak.

3. Napak tilas masa lalu. Mengunjungi tempat dimana acara ijob qobul atau resepsi pernikahan dilakukan adalah salah satu cara yang baik menumbuhkan romantisme. Munculnya ingatan saat benih-benih cinta mulai tumbuh antara suami dan istri dapat menumbuhkan kembali suasana romantis didalam keluarga yang sudah mulai memudar. Wallohua’lam.

Dengki Menghanguskan Kebaikan


Oleh: Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I 

Sifat dengki atau hasad merupakan salah satu penyakit hati yang parah, sehingga Imam Al-Ghazali menggolongkannya sebagai sebuah dosa besar. Dengki atau Hasad adalah keinginan atau harapan agar nikmat yang ada pada orang lain lenyap. Seolah ia tidak ridha dengan kekentuan Allah swt, bahwa Allah telah menentukan rejeki , keistimewaan dan kebaikan bagi tiap hamba-Nya, masing-masing sudah ada bagiannya. Allah swt telah mengajarkan kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari sifat dengki, yakni seperti tercantum dalam surat Al-Falaq. Qul ‘audzu birrabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idza waqab. Wamin syarri naffasaati fil uqod wamin syarri haasidin idza hasaad.   ….. “ dan dari kejahatan pendengki ketika melakukan kedengkian.

Siapa yang mengajarkan kedengkian ini kepada makhluk manusia? Jawabannya adalah Iblis laknatullah. Sejak awal penciptaan Nabi Adam as, Iblis sudah merasa dengki terhadap Adam as, atas keutamaan/keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Adam. Nabi Adam diciptakan dari tanah, dan Allah menyuruh agar Iblis bersujud kepada Adam As. Iblis dengki, kenapa yang diberi kemuliaan penghormatan adalah Nabi Adam, bukan dia Iblis. Inilah kisah dan sejarah kedengkian yang pertama. Selanjutnya kita juga mengetahui kisah kedengkian pada periode berikutnya, yakni dimasa kehidupan anak-anak nabi Adam as. Qabil hasad/dengki kepada saudaranya sendiri, Habil. Allah memerintahkan Habil untuk menikah dengan saudara kembar Qabil yang kebetulan lebih cantik, dibanding dengan saudara kembar Habil yang harus dinikahi oleh Qabil. Dengan sebab kedengkian ini, akhirnya Qabil tega membunuh saudara sendiri, Habil. Dan ini adalah sejarah pembunuhan manusia yang pertama kali.

Betapa dahsyat kerusakan yang disebabkan oleh sifat dengki. Maka sangat bisa dimengerti, sabda Rasulullah saw: al Hasadu ya’kulul hasanaat, kama ta’kulu annar alhathabu “ (HR. Abu Dawud). Kedengkian akan memakan seluruh kebaikan, sebagaimana api akan melahap/membakar kayu bakar” . Bayangkanlah, sepotong kayu yang keras , oleh sebab dimakan api, bisa menjadi hangus dan menjadi hancur menjadi kepingan yang sangat halus berupa abu yang dengan mudah akan diterbangkan oleh angin. Bahkan benda yang lebih keras dari kayu pun, misalnya alumunium, jika kita bakar terus menerus, akan bisa menjadi rapuh dan berlubang. Sebagian ibu-ibu yang memasak di dapur, mungkin pernah mengalami kasus kebakaran pancinya, ketika lupa mematikan kompor, yang menyebabkan panci tersebut menjadi rapuh dan bocor.

Demikian juga dengan dengki, ia akan menghanguskan amal-amal shalih yang sudah dilakukan pelakunya. Sungguh rugi dan bangkrut, orang-orang yang melakukan kedengkian, dia menyangka akan memanen amal-amal baiknya di surga kelak, namun ternyata sangkaan dan harapannya kosong belaka. Pahala amal-amalnya hangus karena kedengkian yang ada pada dirinya. Dan sungguh beruntung, orang yang hatinya selalu lapang dan bersih, tidak ada dengki di dalam dirinya. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa suatu kali ketika Rasul saw sedang duduk bersama sahabat, Rasul menyampaikan bahwa sebentar lagi dari lorong/jalan ini akan muncul seorang calon penghuni syurga. Muncullah seorang anshar yang saat itu kelihatan baru selesai wudhu, bekas air wudhunya masih mengalir di jenggotnya. Pada kesempatan lain, Rasul menyampaikan hal sama, sahabat menyangka ada orang lain lagi calon penghuni syurga, ternyata yang muncul adalah seorang anshar yang sama. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Para shahabat penasaran, salah satu yang penasaran adalah Abdullah ibnu Umar. Beliau kemudian berencana bermalam di rumah orang anshar tersebut, untuk bisa “mengintip” gerangan apakah kesitimewaan amalnya. Malam pertama, kedua dan ketiga, Ibnu Umar tidak mendapatkan data yang istimewa tentang ibadah-ibadah beliau, semua berjalan standar saja. Akhirnya Abdullah bin Umar memberanikan diri untuk bertanya, adakah amalanmu yang istimewa, sehingga baginda Rasul saw mengabarkan bahwa engkau termasuk penghuni surga. Orang anshar tersebut menjawab bahwa “amalanku adalah seperti yang sudah engkau lihat sendiri, dan tidak ada yang istimewa, hanya saja, di hati saya tidak pernah ada kedengkiaan dan kekesalan kepada sesama muslim.” Maka Abdullah bin Umar berucap “ yang seperti inilah yang belum ada pada saya” dan beliau pulang dengan membawa sebuah hikmah dan pelajaran besar, betapa pentingnya membersihkan hati dari segala sifat dengki, sekecil apapun.

Dalam kehidupan nyata sehari-hari, praktek-praktek kedengkian dengan mudah kita saksikan di depan mata, boleh jadi dalam kadar yang berbeda. Gambaran kondisi yang pertama dan yang paling parah, adalah seseorang yang menginginkan nikmat yang ada pada orang lain, hilang dan lenyap. Dia menginginkan, harusnya dirinya yang mendapatkan kenikmatan tersebut. Dalam beberapa hal, kondisi ini mirip dengan kedengkian orang-orang yahudi bani Israel terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. Inilah yang dimaksud dengan dengki/hasad. Gambaran kondisi yang kedua adalah seseorang yang menginginkan untuk mendapatkan nikmat seperti orang lain, tanpa mengharapkan lenyapnya nikmat yang ada pada orang lain. Ini yang sering disebut dengan tanafus, atau persaingan. Meskipun lebih ringan dari kondisi yang pertama, namun manakala dituruti keinginan nafsu-nafsu materi-duniawi, akan menyebabkan hati kita keras, hanya akan disibukkan untuk terus-menerus mengejar materi/dunia. Maka sebisa mungkin hal ini harus dihindari, kecuali dalam dua hal, menginginkan seperti orang lain yang memiliki ilmu dan pemahaman, sehingga memberikan penerangan bagi masyarakat, dan menginginkan seperti seseorang yang Allah karuniakan harta yang berlimpah, dan hartanya digunakan untuk berjuang di jalan Allah dalam semua maknanya. Kondisi yang ketiga, adalah menginginkan lenyapnya harta pada orang lain , yang harta tersebut digunakannya untuk melakukan kejahatan. Misalnya ada seseorang yang memiliki rumah, tapi rumah tersebut digunakan untuk prostitusi misalnya. Maka ulama membolehkan, jika seseorang menginginkan agar rumah tersebut lenyap/lepas dari pemiliknya, agar hilang kejahatan prostitusi.

Sebagai penutup, coba kita renungkan kembali hadis Rasulullah saw berikut: “ laa tahasabuu wa laa taqaatha’u wa laa tabaghadhu wa laa tabaadaru wa kuunuu ibaadallahi ikhwaana “ Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling memutuskan persaudaraan, jangan saling membenci, jangan saling menipu/memperdaya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling besaudara.   (HR   Bukhari   Muslim).   Wallahu a’lam bishawwab.

sumber dakwatuna

Dakwah Adalah Cinta

oleh (Alm) KH Rahmat Abdullah


Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di
tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat
yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi
orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang
segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah
kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa
pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah
bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama
mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan
segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan
rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk
mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan
Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru
jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah
dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…

Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Rahasia Mustajab Doa



Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

ALHAMDULILLAH, pujian seutuhnya hanya milik Allah yang Maha pengasih dan penyayang. Dialah yang mengurus kita setiap saat, kapan pun dan dimana pun. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah, Muhammad Saw.


Doa memang penting. Bahkan Allah juga memerintahkan kita untuk berdoa. Memang, yang terpenting dari doa bukanlah doa itu sendiri. Tetapi suasana hati kita yang benar-benar memurnikan tauhid.


Seseorang dikatakan baik ketika berdoa jika orang tersebut berhasil menemukan posisi yang paling tepat bagi seorang hamba. Merasa lemah tiada daya. Dia akan memohon kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Hamba yang baik itu yang merasa miskin. Tidak punya apa pun.Termasuk diri ini. Jika kita masih merasa punya, merasa bisa, itu tidak benar.


Ketika kita sudah merasa tidak berdaya dan hanya berharap kepada Allah, dan tidak pernah hati ini bercabang mengharapkan pertolongan siapa pun, itu sudah bagus. Insya Allah doanya makbul. Ketika kita merasa tidak mengerti, tidak tahu, bodoh, dan Allah satu-satunya yang Maha Tahu, itu jadi posisi yang paling mustajab. Dan itu tidak hanya pada waktu berdoa saja.


Ada yang merasa mempunyai kedudukan di sisi Allah. Seakan-akan dia sudah suci dan sudah mulia karena memakai pakaian yang islami. Bagi laki-laki, dia memakai sorban dan peci. Jika perempuan, dia memakai jilbab yang lebar dan pakaian rapi. Sehingga merasa mempunyai kedudukan di sisi Allah. Justru itu adalah hijab (penghalang). Harusnya orang itu merasa kotor, hina, dan berpikir jangan-jangan berpakaian rapi tapi berhati busuk.


Jika kita merasa saleh, pintar, dan lebih jelek lagi jika merasa mempunyai kedudukan di sisi Allah, itu akan menjadi hijab. Jadi, jika ingin doanya mustajab, bukan masalah redaksi doanya. Masalah redaksi dapat dibaca oleh siapa pun. Tapi lebih kepada hati yang menyerahkan segalanya kepada Allah.


Mengapa ada yang berdoa satu kali langsung dikabulkan dan ada yang berdoa 1.000 kali tapi doanya tidak dikabulkan? Pasti ada masalah di hatinya. Dia mengatakan laa haula wa lakuwwata illa billah, tapi hatinya masih berharap kepada selain Allah. Harusnya, tidak ada yang menolong selain Allah.


Tapi yang terpenting adalah bukan masalah terkabulnya doa. Yang terpenting bagi kita adalah jadi hambanya Allah melalui doa. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56.)


Jadi, yang terpenting dari doa kita adalah tauhid kita menjadi bersih dan menjadi hamba Allah sejati. Perkara dikabulkannya doa itu hanya hiburan dari Allah. Karena Allah memberikan semua itu agar keimanan kita bertambah.


Doa itu bisa mengubah dari takdir satu ke takdir lain. Mau takdir apa pun, semuanya tidak ada yang baru di sisi Allah. Karena semuanya telah ditulis di lauh mahfudz. Begitu pun dengan doa. Doa yang betul-betul bulat dan doa yang main-main akan berbeda hasilnya.


Adapun perkara mendoakan orang lain itu bisa saja. Bagaimana jika Allah membalikkan hati seseorang? Bisa jika Allah mau. Rasulullah juga mendoakan di antara dua Umar. Umar bin Khatab dan Umar bin Khisam yang ternyata hanya salah satu saja yang hatinya dibalikkan oleh Allah.


Rasulullah juga banyak mendoakan orang agar diberi hidayah. Oleh karena itu, jangan pelit berdoa. Karena siapa tahu Allah memberikan saat mustajabnya doa ketika kita sedang berdoa. Semua doa kita pasti didengar oleh Allah. Tidak ada yang tidak terdengar dan semua ada catatannya. Dan allah Maha Tahu merunduknya hati kita seperti apa. Jangan ragukan mustajabnya doa. Janji Allah sudah pasti, tapi bentuk dan caranya sesuka Allah.


Berbaik sangkalah kepada Allah. Dan berbaik sangka itu cirinya adalah patuh. Allah akan membantu, Allah akan membereskan, karena Ia pemilik jagad semesta ini. Allah akan mencukupi. Itu baik sangka. Tapi jika tidak salat, maksiat jalan terus, ini bukan baik sangka. Itu membual saja. [*]


Nasional